Kamis, 08 Desember 2011

Tgl 6 Februari 2008 " Hari Kelabu "

Tgl 6 Februari 2008 " Hari Kelabu " Cetak E-mail
ImageYa...gw menyebutnya hari itu adalah hari kelabu bagi gw dan mayoritas bagi pendukung Persija. dimana pada hari tersebut adalah hari semifinal Liga Indonesia 2007. memang Liga yang aneh dan liga yang terpanjang di dunia. untuk menyaksikan 1 musim kompetisi harus dijalani selama 1 tahun full. mulai dari tgl 10 Februari 2007 - 10 februari 2008. itulah bobroknya sistem kompetisi Liga Indonesia yang di urus oleh induk organisasi yg bernama PSSI.
Lagi..lagi Persija gagal mencapai final, karena harus kembali di hempaskan oleh lawannya, dalam hal ini adalah Sriwijaya FC dengan skor 1-0. sama dengan hasil yang diperoleh pada COPA, dimana Persija harus dihempaskan oleh Persipura dengan skor 3-2. dan itu terjadi di GBK dimana sebenarnya Persija banyak diuntungkan, dikarenakan bermain di hadapan publik nya sendiri. Namun beban Mental dan Tekanan " HARUS MENANG" yang dialami skuad Persija sepertinya menjadi bumerang bagi skuad Persija itu sendiri. Persija bermain sangat tidak lepas, kehilangan daya kreatifnya, terburu-buru, dan yang lainnya.

Hari yang kelabu itu tidak hanya sebatas itu saja, KEMBALI..persepakbolaan Indonesia merenggut nyawa salah seorang supporter Persija yang bernama Fathul M (27th). Alm Fathul yang berencana ingin menyaksikan tim idolanya..yaitu Persija harus mengakhiri nyawanya di area GBK dikarenakan pengeroyokan yang di lakukan oleh oknum-oknum supporter Persipura (Persipura Mania atau The Commend's). Why..kenapa...? mungkin itulah pertanyaan yang ada di benak kita. padahal semifinal yang berlangsung kemarin itu tidak mempertemukan  Persipura vs Persija, melainkan Persipura vs PSMS Medan dan Persija vs Sriwijaya  FC. kenapa yang bentrok malah supporter Persipura vs Persija..? Pasti ada sebab akibat nya..jika kita harus berpikir yang arif.

Kebetulan, gw melihat langsung pertandingan Persipura vs PSMS medan, dan saat itu gw melihat ...mayoritas pendukung Persija (The Jak) mendukung PSMS Medan bersama Kampak & Smeck. mungkin karena history tentang Persipura, bahwa langkah Persija sering gagal jika bertemu dengan Persipura (jadi inget Final Liga Indonesia 2005 dan Semi Final Copa Indonesia 2007...Persija selalu kalah dari Persipura...dan sempat terjadi kerusuhan diantara kedua supporter nya). nah itulah yang membuat gw maklum, bahwa mayoritas pendukung Persija lebih mendukung PSMS Medan, namun yang sangat gw sayangkan adalah dukungan kepada PSMS Medan tidak hanya sebatas itu saja, tetapi terlihat di tribun atas dari pendukung Persipura, supporter yg berwarna oren mulai melempari benda2 kearah supporter Persipura ( saya tidak perduli..itu the jak resmi, ato the jak liar, ato sebatas simpatisan Persija saja ) tapi bagi saya saat itu...adalah suatu perbuatan yang memalukan dan tidak menghargai supporter tamu (dalam hal ini adalah persipura mania/the commend's).
Dan akhirnya Pendukung Persipura tersebut terlihat sangat marah sekali, sadar kalo di stadion jumlah mereka kalah banyak ... akhirnya mereka segera lari keluar. Mereka sudah kalah dalam pertandingan, mengakibatkan hati mereka menjadi sedih...ditambah lagi ada beberapa Supporter Persija yang ikut menambah runyam persoalan dengan cara melempar-lempar benda (botol minuman) kearah supporter Persipura, makin meledaklah emosi mereka..dan itu saya sangat maklum.
Namun, ternyata terjadi hal yang diluar dugaan gw. Supporter Persipura itu mengamuk di luar stadion GBK dan mencari-cari orang2 yang menggunakan atribut Persija/Oren'. dan naas bagi sdr. fathul M yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya menjadi sasaran amukan kemarahan dari supporter Persipura tersebut. jelas dalam hal ini...kondisi supporter persipura jumlah nya jauh lebih banyak dari The Jak/Supporter Persija karena mayoritas pendukung Persija tsb sudah masuk kedalam stadion GBK. dan meninggal lah sdr. Fathul M dalam tragedi pengeroyokan tersebut.
Dalam hal ini saya akan bersikap obyektif...saya akan menyalahkan beberapa pihak, diantaranya :

1. Panpel Pertandingan : kenapa anda membiarkan ribuan anggota The Jak/Supporter Persija berada di atas tribun Persipura Mania ? Kenapa anda membiarkan pedagang minuman bebas berkeliaran ?

2. Pihak Kepolisian / Aparat Keamanan : Saya melihat sendiri di tayang televisi bagaimana anda, tidak bisa berbuat maksimal ? Saat pendukung Persipura mulai melakukan tindakan brutal terhadap beberapa anak-anak The Jak ataupun orang2 yang menggunakan atribut Oren..kalian hanya diam saja,  tapi anda sangat sigap sekali menembakkan gas air mata ke arah supporter Persija , jika mereka melakukan tindakan anarkis. Diskriminasi sekali..kalian!

3. Supporter Persipura : Seharusnya kalian bisa menahan diri, apalagi kalian berada di kandang orang. teror, lemparan botol serta cacian seharusnya anda sudah bisa mengantisipasinya, karena anda ada di dalam lingkungan Sepakbola Indonesia (yg masih mengandalkan OTOT ketimbang OTAK). kalian membalas perlakuan The Jak/Supporter Persija dengan cara yang anarkis pula, dengan cara yang brutal pula, itu menandakan..ANDA sama bodohnya dengan prilaku anak-anak The Jak/Supporter Persija yang brutal. Biasakan sowan dulu kepada suporter tuan rumah, biasakan koordinasi, sehingga anda akan mendapat kawalan dari kami sebagai tuan rumah. Anda dapat melihat suporter PSMS & Sriwijaya yang telah kami jamu meskipun tidak sepenuhnya sempurna.

4. The Jak resmi / The Jak Liar / Supporter Persija : saya tidak perduli..yang melakukan lemparan ke arah supporter persipura, mau itu the jak resmi/the jak liar ato hanya simpatisan saja...bagi saya....SAMA AJA', ngga usah cari pembenaran...!!! akibat kelakukan kalian yang memancing emosi supporter Persipura, salah satu rekan kita (Fathul M) yg memang benar2 ingin nonton bola ..TIDAK SEPERTI KALIAN..!! harus kehilangan nyawanya..akibat kebodohan..dan kearoganan kalian...!!! dimana kalian saat rekan kita di keroyok di luar stadion....!!!!!! kalian yang bikin ulah di dalem stadion, tapi rekan kita yg diluar stadion yang malah kena musibahnya...!!!

5. Pengurus The Jak Mania : semestinya anda proaktif dengan menempatkan koordinator lapangan di tribun atas yang dibawahnya terdapat suporter lawan. Sebagai pengurus..lebih harus bisa berinstrospeksi diri...jangan hanya menyalahkan atau menuntut kepada pihak lain saja. satu hal menjadi catatan saya : The Jak dulu sedikit tapi memiliki Kualitas dan Kesadaran Etika menjadi SUPPORTER cukup tinggi. beda dengan sekarang...Kuantitas banyak..Kualitas...MiniM.

6. PSSI : nah buat PSSI yang Djancook....anda liat sendiri kan dengan sistem kompetisi yang anda buat...pagelaran 8 besar, semi final dan final...hanya akan mendatangkan emosi yang tinggi dari seluruh insan pecinta sepakbola. berbeda jika Liga di buat dengan cara 1 wilayah. Tingkat intensitas kerusuhan pasti akan sedikit berkurang.

Dan..yang terpenting..kini saat nya berpikir untuk kedepan..jangan hanya Dendam yang di gede-2in, DENDAM hanya akan menimbulkan masalah baru....!!

Gw ikhlas...jika harus kehilangan HP gw saat itu..( HP yg bener2 gw sayangin )...dimana2 copet selalu beraksi...kita jgn hanya menyalahkan si pencopet, tapi kita juga harus sadar diri...masih teledor kah kita ? ya..gw akuin gw teledor...

Tapi gw ngga ikhlas...jika kepergian Alm.Fathul M..harus menimbulkan fathul..fathul yang lain..dikarenakan DENDAM PERMUSUHAN...!!!!

So berpikir jernih dalam bertindak..., jika ingin di hargai..kita pun harus bisa menghargai orang lain.

Salam...

Dari Sebatas Supporter Persija Biasa


Sumber: http://www.jakmania.org/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=593&Itemid=106

Tugas 4: MOTIVASI

MOTIVASI
  • Pentingnya Motivasi 
Motivasi adalah keadaan internal yang mengaktifkan, memandu dan mempertahankan perilaku. Psikologi pendidikan penelitian tentang motivasi berkaitan dengan kemauan atau akan bahwa siswa membawa ke tugas, tingkat ketertarikan mereka dan motivasi intrinsik, tujuan pribadi berpendapat bahwa memandu perilaku mereka, dan keyakinan mereka tentang penyebab keberhasilan atau kegagalan. Seperti penawaran motivasi intrinsik dengan kegiatan yang bertindak sebagai imbalan mereka sendiri, kesepakatan motivasi ekstrinsik dengan motivasi yang disebabkan oleh konsekuensi atau hukuman.

Suatu bentuk teori atribusi yang dikembangkan oleh Bernard Weiner [38] menjelaskan bagaimana keyakinan siswa tentang penyebab keberhasilan atau kegagalan akademis mempengaruhi emosi dan motivasi mereka. Misalnya, ketika siswa mengaitkan kegagalan dengan kurangnya kemampuan, dan kemampuan dianggap sebagai tak terkendali, mereka mengalami emosi rasa malu dan malu dan akibatnya mengurangi usaha dan menunjukkan kinerja yang lebih miskin. Sebaliknya, ketika siswa mengaitkan kegagalan dengan kurangnya usaha, dan usaha yang dianggap sebagai terkendali, mereka mengalami emosi rasa bersalah dan akibatnya meningkatkan upaya dan menunjukkan perbaikan kinerja.

Teori motivasi juga menjelaskan bagaimana tujuan pembelajar 'mempengaruhi cara mereka terlibat dengan tugas-tugas akademik [39]. Mereka yang memiliki tujuan penguasaan berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mereka. Mereka yang memiliki tujuan kinerja pendekatan yang berusaha untuk kelas tinggi dan mencari kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Mereka yang memiliki tujuan menghindari kinerja didorong oleh ketakutan akan kegagalan dan menghindari situasi di mana kemampuan mereka yang terkena. Penelitian telah menemukan bahwa penguasaan tujuan yang dikaitkan dengan hasil positif seperti ketekunan dalam menghadapi kegagalan, preferensi untuk tugas-tugas yang menantang, kreativitas dan motivasi intrinsik. Kinerja tujuan menghindari berhubungan dengan hasil negatif seperti kurang konsentrasi saat belajar, belajar tidak teratur, kurang swa-regulasi, pengolahan informasi dangkal dan kecemasan tes. Pendekatan tujuan kinerja yang dikaitkan dengan hasil positif, dan beberapa hasil negatif seperti keengganan untuk mencari bantuan dan pengolahan informasi dangkal.

  • Pandangan Motivasi Dalam Organisasi
Motivasi seperti yang telah disebutkan diatas, akan mempengaruhi, mengarahkan dan berkomunikasi dengan bawahannya, yang selanjutnya akan menentukan efektifitas manajer. Ada dua factor yang mempengaruhi tingkat prestasi seseorang, yaitu kemampuaan individu dan pemahaman tentang perilaku untuk mencapai prestasi yang maksimal disebut prestasi peranan. Dimana antara motivasi, kemampuan dan presepsi peranan merupakan satu kesatuan yang saling berinteraksi.
  •  Teori-teori Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : (1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) teori Clyton Alderfer (Teori ERG); (4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6) Teori penetapan tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (disarikan dari berbagai sumber : Winardi, 2001:69-93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167).

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : (1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
    1.  Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
    2. Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya. 
    3. Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
    Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.

    2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
    Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
    Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.

    3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
    Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)
    Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
    1. Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
    2. Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
    3. Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
    Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.

    4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
    Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
    Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
    Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
    Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik

    5. Teori Keadilan
    Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
    1. Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau
    2. Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
    Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
    1. Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;
    2. Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
    3. Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
    4. Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
    Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.

    6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
    Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan.

    7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )
    Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
    Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
    Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.

    8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
    Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
    Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
    Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
    Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
    Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.
    Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.

    9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
    Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .
    Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.
    Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
    •   Teori Isi (CONTENT THEORY)

    A.    Teori isi terdiri dari 4 teori pendukung, yaitu :
    1.      Teori Hierarki
    Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan kita terdiri dari lima kategori :
    1.      fisiologis (physiological)
    2.      keselamatan atau keamanan (safety and security)
    3.      rasa memiliki atau social (belongingness and love)
    4.      penghargaan (esteem)
    5.      aktualisasi diri (self actualizatin).
    Menurutnya kebutuhan-kebutuhan ini berkembang dalam suatu urutan hierarkis, dengan kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling kuat hingga terpuaskan. Kebutuhan ini mempunyai pengaruh atas kebutuhan-kebutuhan lainnya selama kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Suatu kebutuhan pada urutan paling rendah tidak perlu terpenuhi secara lengkap sebelum kebutuhan berikutnya yang lebih tinggi menjadi aktif.
    2.      Teori ERG
    Alderfer (1972) mengemukakan tiga kategori kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah:
    1.      Eksistence (E) atau Eksistensi
    Meliputi kebutuhan fisiologis sepeerti lapar, rasa haus, seks, kebutuhan materi, dan lingkungan kerja yang menyenangkan.
    2.      Relatedness (R) atau keterkaitan
    Menyangkut hubungan dengan orang-orang yang penting bagi kita, seperti anggota keluarga, sahabat, dan penyelia di tempat kerja.
    3.      Growth (G) atau pertumbuhan
    Meliputi kenginginan kita untuk produktif dan kreatif dengan mengerahkan segenap kesanggupan kita.
    Alderfer menyatakan bahwa :
    Pertama : 
    bila kebutuhan akan eksistensi tidak terpenuhi, pengaruhnya mungkin kuat, namun kategori-kategori kebutuhan lainnya mungkin masih penting dalam mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan.
    Kedua : 
    meskipun suatu kebutuhan terpenenuhi, kebutuhan dapat berlangsung terus sebagai pengaruh kuat dalam keputusan.
    Jadi secara umum mekanisme kebutuhan dapat dikatakan sebagai berikut
    • Frustration - Regression
    • Satisfaction – Progression
    3.      Teori Tiga Motif Sosial (D. McClelland)
    Menurut McClelland, ada tiga hal yang sangat berpengaruh, yang memotivasi seseorang untuk berprestasi. Ke tiga motif itu adalah:
    1.      Achievement Motive (nAch): Motif untuk berprestasi
    Masyarakat dengan keinginan berprestasi yang tinggi cenderung untuk menghindari situasi yang berisiko terlalu rendah maupun yang berisiko sangat tinggi. Situasi dengan resiko yang sangat kecil menjadikan prestasi yang dicapai akan terasa kurang murni, karena sedikitnya tantangan. Sedangkan situasi dengan risiko yang terlalu tinggi juga dihindari dengan memperhatikan pertimbangan hasil yang dihasilkan dengan usaha yang dilakukan. Pada umumnya mereka lebih suka pada pekerjaan yang memiliki peluang atau kemungkinan sukses yang moderat, peluangya 50%-50%. Motivasi ini membutuhkan feed back untuk memonitor kemajuan dari hasil atau prestasi yang mereka capai.
    2.      Affiliation Motive (nAff): Motif untuk bersahabat.
    Mereka yang memiliki motif yang besar untuk bersahabat sangat menginginkan hubungan yang harminis dengan orang lain dan sangat ingin untuk merasa diterima oleh orang lain. Mereka akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan sistem norma dan nilai dari lingkungan mereka berada. Mereka akan memilih pekerjaan yang meberikan hasil positif yang signifikan dalam hubungan antar pribadi. Mereka kana sangat senang menjadi bagian dari suatu kelompok dan sangat mengutamakan interaksi solsial. Mereka umumnya akan maksimal dalam pelayanan terhadap konsumen dan interkasi dengan konsumen (customer service and client interaction situations).
    3.      Power Motive (nPow) : Motif untuk berkuasa
    Seseorang dengan motif kekuasaaan dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu:
    a.       Personal power 
    Mereka yang mempunyai personal power motive yang tinggi cenderung untuk memerintah secara langsung, dah bahkan cenderung memaksakan kehendaknya.
    b.      Institutional power
    Mereka yang mempunyai institutional power motive yang tinggi, atau sering disebut social power motive, cenderung untuk mengorganisasikan usaha dari rekan-rekannya untuk mencapai tujuan bersama.
    Manajer dengan institutional power motive yang tinggi umumnya lebih efektif dari manajer dengan individual power motive yang besar. Power motif ini berhububgan erat dengan emotional maturity.
    4.      Teori Dua Faktor
    Herzberg (1966) mencoba menentukan faktor-faktor apa yang mempengaruhi motivasi dalam organisasi. Ia menemukan dua perangkat kegiatan yang memuaskan kebutuhan manusia:


          a.      Kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan kerja atau disebut juga motivator Meliputi prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan atau promosi, pekerjaan itu sendiri, dan potensi bagi pertumbuhan pribadi.
    b.      Kebutuhan yang berkaitan dengan ketidakpuasan kerja
    Disebut juga factor pemeliharaan (maintenance) atau kesehata (hygiene), meliputi gaji, pengawasan, keamanan kerja, kondisi kerja, administrasi, kebijakan organisasi, dan hubungan antar pribadi dengan rekan kerja, atasan, dan bawahan ditempat kerja. Faktor ini berkaitan dengan lingkungan atau konteks pekerjaan alih-alih dengan pekerjaan itu sendiri.
    TEORI-TEORI PROSES KOMUNIKASI
    • Pengertian Komunikasi
    Komunikasi adalah, proses pengiriman dan penerimaan informasi atau pesan antara dua orang atau lebih dengan cara yang efektif, sehingga pesan yang dimaksud dapat dimengerti.
    Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi, banyak melalui perkembangan.
    Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi.

    • Proses Komunikasi
    Tahapan proses komunikasi adalah sebagai berikut :
    1.Penginterpretasian.
    2.Penyandian.
    3Pengiriman.
    4Perjalanan.
    5Penerimaan.
    6Penyandian balik.
    7Penginterpretasian.

    • Saluran Komunikasi dalam Organisasi
     saluran komunikasi di bagi menjadi 2,yaitu :
    1.komunikasi FORMAL,yaitu
    2.komunikasi INFORMAL, yaitu manfaat jaringan komunikasi informal, sifat dari jaringan
    komunikasi informal, peran-peran yang ada dalam jaringan komunikasi informal,model-model klik yang terbentuk beserta pola yang ada dalam klik tersebut.

    • Peranan Komunikasi INFORMAL
    organisasi informal merupakan suatu hal yang janggal, yang merupakan akibat gagalnya komunikasi formal yang memunculkan ketidakstabilan organisasi formal. Bentuk komunikasi informal dapat berupa pertemuan yang tidak direncanakan, seperti: bertemu dan ngobrol di kantin pada jam makan siang, di resepsi, atau pertemuan lainnya. Komunikasi informal ini mempunyai hal-hal yang positif, seperti:
    a. Bila jalan yang ditempuh melalui komunikasi formal melewati hambatan, dengan terpaksa digunakan komunikasi informal.
    b. Dalam suasana konflik dan penuh ketegangan.
    c. Sebagai sarana komunikasi.

    •  Hambatan-hambatan komunikasi efektif
    Di dalam komunikasi-arti-fungsi-dan-bentuk.selalu ada hambatan yang dapat mengganggu kelancaran jalannya proses komunikasi Sehingga informasi dan gagasan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan atau receiver.
    Menurut Ron Ludlow,ada hambatan-hambatan yang menyebabkan faktor-faktor-yang-berkaitan-dengan.
    komunikasi tidak efektif yaitu adalah (1992)
    Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.
    Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.
    Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.
    Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh : kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.
    Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
    gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
    Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.

    • Peningkatan Efektifitas Komunikasi
    peningkatan efektifitas komunikasi dalam suatu organisasi sangat penting sebab dengan adanya efektifitas dalam berkomunikasi dapat memperlancar hubungan dalam berorganisasi antara satu perusahaan atau organisasi dengan perusahaan atau organisasi yang lain.

    KESIMPULAN

    Ada dua factor yang mempengaruhi tingkat prestasi seseorang, yaitu kemampuaan individu dan pemahaman tentang perilaku untuk mencapai prestasi yang maksimal disebut prestasi peranan. Dimana antara motivasi, kemampuan dan presepsi peranan merupakan satu kesatuan yang saling berinteraksi.

    Proses komunikasi bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi, banyak melalui perkembangan.
    Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi.
    Sumber:
    http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/06/teori-teori-motivasi/
    http://yusrizalfirzal.wordpress.com/2009/10/13/hambatan-hambatan-dalam-komunikasi/
    http://muhammadkhadapi.blogspot.com/2010/12/pandangan-motivasi-dalam-organisasi.html
    http://noviraekaputri.blogspot.com/2010/11/teori-isi-content-theory.html
    http://muhammadkhadapi.blogspot.com/2010/12/komunikasi.html

    Rabu, 07 Desember 2011

    Tugas 3: PENGORGANISASIAN

    PENGORGANISASIAN
    • Pengertian organisasi
    Definisi dan Pengertian pengorganisasian menurut para ahli sebagai berikut :
    1. Organisasi Menurut Stoner; Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
    2. Organisasi Menurut James D.Mooney; Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
    3. Organisasi Menurut Chester I.Bernard; Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.


    Pengertian organisasi
    Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
    Pengertian Pengorganisasian.
    Seperti telah diuraikan sebelumnya tentang Manajemen, Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi.
    Pengertian Struktur Organisasi
    Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan meninjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain daripada itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.
    • Teori-teori Organisasi
    Teori organisasi adalah suatu konsepsi, pandangan, tinjauan, ajaran, pendapat atau pendekatan tentang pemecahan masalah organisasi sehingga dapat lebih berhasil bahkan pada gilirannya organisasi dapat mencapai sasaran yang ditetapkan, adapun yang dimaksud masalah itu sendiri adalah segala sesuatu yang memerlukan pemecahan dan pengambilan keputusan. Masalah yang dihadapi oleh organisasi sangat kompleks dari setiap masalah organisasi yang sangat kompleks itu memunculkan berbagai kajian untuk lebih memahami efektifitas organisasi. Dari usaha intelektual itu kemudian berkembanglah berbagai teori organisasi dengan berbagai kaidah dan rumusnya.
    Ada 9 macam teori organisasi yaitu teori organisasi klasik, teori organisasi birokrasi, teori organisasi human relations, teori organisasi perilaku, teori proses, teori organisasi kepemimpinan, teori organisasi fungsi, teori organisasi pembuatan keputusan dan teori organisasi kontingensi.

    1. Teori Organisasi Klasik
    Teori organisasi klasik disebut juga teori organisasi tradisional, teori organisasi spesialisasi, atau teori struktural. Ada 10 macam prinsip organisasi diantaranya : (1) prinsip penetapan tujuan yang jelas; (2) prinsip kesatuan perintah; (3) prinsip keseimbangan; (4) prinsip pendistribusian pekerjaan; (5) prinsip rentangan pengawasan; (6) prinsip pelimpahan wawasan; (7) prinsip departementasi; (8) prinsip penetapan pegawai yang tepat; (9) prinsip koordinasi dan (10) prinsip pemberian balas jasa yang memuaskan.

    2. Teori Birokrasi
    Pada dasamya teori organisasi birokrasi menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan, organisasi harus menjalankan strategi sebagai berikut:
    a. Pembagian dan penugasan pekerjaan secara khusus
    b. Prinsip hierarki atau bawahan hanya bertanggung jawab kepada atasannya langsung.
    c. Promosi didasarkan pada masa kerja dan prestasi kerja, dan dilindungi dari pemberhentian sewenang-wenang dan yang demikian disebut prinsip loyalitas.
    d. Setiap pekerjaan dilaksanakan secara tidak memandang bulu, tidak membeda-bedakkan status sosial, tidak pilih kasih. Strategi ini dinamakan prinsip impersonal
    e. Tiap-tiap tugas dan pekerjaan dalam organisasi dilaksanakan menurut suatu sistem tertentu berdasarkan kepada data peraturan yang abstrak. Strategi ini dinamakan prinsip uniformitas.

    3. Teori Human Relations
    Teori ini disebut juga teori hubungan kemanusiaan, teori hubungan antara manusia, teori hubungan kerja kemanusiaaan atau the human relations theory. Suatu hubungan dikatakan hubungan kemanusiaan apabila hubungan tersebut dapat memberikan kesadaran dan pengertian sehingga pihak lain merasa puas. Pengertian tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu hubungan manusia secara luas dan secara sempit. Dalam arti luas hubungan kemanusiaan adalah hubungan antara hubungan seseorang dengan orang lain yang terjadi dalam suatu situasi dan dalam semua bidang kegiatan atau kehidupan untuk mendapatkan suatu kepuasan hati.

    4. Teori Organisasi perilaku
    Teori ini disebut merupakan suatu teori yang memandang organisasi dari segi perilaku anggota organisasi. Teori ini berpendapat bahwa baik atau tidaknya, berhasil tidaknya organisasi mencapai sasaran yang telah ditetapkan berasal dari para anggotanya.

    5. Teori Organisasi Proses
    Suatu teori yang memandang organisasi sebagai proses kerjasama antara kelompok orang yang tergabung dalam suatu kelompok formal. Teori ini memandang organisasi dalam arti dinamis, selalu bergerak dan didalamnya terdapat pembagian tugas dan prinsip-prinsip yang bersifat umum (Universal).

    6. Teori Organisasi Kepemimpinan
    Teori ini beranggapan bahwa berhasil tidaknya organisasi mencapai tujuan tergantung sampai seberapa jauh seorang pemimpin mampu mempengaruhi para bawahan sehingga mereka mampu bekerja dengan semangat yang tinggi dan tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien dan efektif, adapun sedikitnya kajian atas teori organisasi yang berhubungan dengan masalah kepemimpinan dapat dibedakan atas:
    a. Teori Otokratis
    b. Teori Demokrasi
    c. Teori kebebasan (Teory laissez fairre)
    d. Teori Patnernalisme
    e. Teori Personal atau pribadi.
    f. Teori Non-Personal

    7. Teori Organisasi Fungsi
    Fungsi adalah sekelompok tugas atau kegiatan yang harus dijalankan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan sebagai pemimpin atau manager guna mencapai tujuan organisasi. Sekelompok kegiatan yang menjadi fungsi seorang pemimpin atau manager terdiri dari kegiatan menyusun perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing), pemberian motifasi atau bimbingan (Motivating), pengawasan (Controlling), dan pengambilan keputusan (Decision making).

    8. Teori Pengambilan Keputusan
    Teori ini berlandaskan pada adanya berbagai keputusan yang dibuat oleh para pejabat disetiap tingkatan, baik keputusan di tingkat puncak yang memuat ketentuan pokok atau kebijaksanaan umum, keputusan di tingkat menengah yang memuat program-progam untuk melaksanakan keputusan adminitratif, maupun keputusan di tingkat bawah.

    9. Teori Kontingensi (Teori Kepentingan)
    Teori ini berlandaskan pada pemikiran bahwa pengelolaan organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar apabila pemimpin organisasi mampu memperhatikan dan memecahkan situasi tertentu yang sedang dihadapi dan setiap situasi harus dianalisis sendiri.
    Dari semua teori ini, tidak satu teori pun yang dianggap paling lengkap atau paling sempurna, teori-teori itu satu sama lain saling mengisi dan saling melengkapi. Teori dianggap baik dan tepat apabila mampu memperhatikan dan menyesuaikan dengan lingkungan dan mampu memperhitungkan situasi-situasi tertentu.

    STRUKTUR ORGANISAI
    • Pembagian Kerja
    Berikut ini ada beberapa dasar yang dapat dijadikan pedoman untuk mengadakan pembagian kerja. Pedoman-pedoman tersebut adalah:
    1. Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya wilayah timur, barat atau wilayah kecamatan, kabupaten dan lain sebagainya.
    2. Pembagian kerja atas dasar jenis benda yang diproduksi, misalnya pada komponen suatu kendaraan, bagian pemasangan jok mobil, pemasangan rem mobil dan lainnya.
    3. Pembagian kerja atas dasar langganan yang dilayani, misalnya adalah langganan secara individual atau kelompok, pemerintahan atau non pemerintahan dan sebagainya.
    4. Pembagian kerja atas dasar fungsi (rangkaian) kerja, misalnya bagian produksi, bagian gudang, bagian pengiriman dan lainnya.
    5. Pembagian kerja atas dasar waktu, misalnya shif kerja pagi, siang dan malam.
    Dari hal tersebut diatas maka akan tergambar atau terlihat pembagian kerja di dalam suatu organisasi, yakni:
    1. Jumlah unit organisasi yang ada akan disesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi tersebut. 
    2. Suatu unit organisasi ini harus mempunyai fungsi bulat dan berkaitan dengan yang lainnya.  
    3. Pembentukan unit baru hanya dilaksanakan bilamana unit yang ada sudah tidak tepat lagi untuk menampung kegiatan yang baru baik dari beban kerja maupun hubungan kerja.  
    4. Secara garis besar akan berpengaruh pada aktifitas dan sifat dari organisasi tersebut.


    • Bentuk-bentuk organisasi
    Menurut pola hubungan kerja, lalu lintas wewenang dan tanggung jawab, maka bentuk organisasi dapat dibedakan sebagai berikut:

    -Bentuk Organisasi Garis
    Bentuk ini merupakan nbentuk organisasi paling tua dan paling sederhana. Bentuk organisasi diciptakan oleh Henry Fayol. Biasa juga disebut dengan organisasi militer dimana cirinya adalah struktur organisasi ini relatif kecil, jumlah karyawan yang relatif sedikit, saling kenal, dan spesialisai kerja yang belum begitu rumit dan tinggi.
    Kebaikannya;
    1.      Kesatuan komado terjamin baik karena pimpinan berada pada satu tangan.
    2.      Proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat karena jumlah orang yang diajak berkonsultasi masih sedikit.
    3.      Rasa solidaritas dianatara karyawan umumnya tinggi karena saling mengenal.
    Keburukannya;
    1.      Seluruh organisasi tergantung pada satu pimpinan (satu orang) dimana bila pimpinan tersebut berhalangan maka organisasi tersebut akan mandek atau hancur.
    2.      Ada kecenderungan pimpinan bertindak secara otokratis.
    3.      Kesempatan karyawan untuk berkembang terbatas.

    -Bentuk Organisasi Fungsional
    Bentuk ini merupakan bentuk dimana sebagian atau segelintir pimpinan tidak mempunyai bawahan yang jelas karena setiap pimpinan berwenang memberikan komando pada bawahannya. Bentuk ini dikembangkan oleh FW Taylor.
    Kebaikannya;
    1.      Pembidangan tugas-tugas jelas.
    2.      Spesialisasi karyawan dapat dikembangkan dan digunakan semaksimal mungkin.
    3.      Digunakannya tenga-tenaga ahli dalam berbagai bidang sesuai dengan fungsinya.
    Keburukannya;
    1.      Karena adanya spesialisasi kerja maka akan sulit untuk mengadakan tour of duty.
    2.      Karyawan lebih mementingkan bidangnya sehingga sukar untuk melaksanakan koordinasi.

    -Bentuk Organisasi Garis dan Staff
    Bentuk ini umumnya dianut oleh organisasi besar, daerah kerja yang luas, mempunyai bidang tugas yang beraneka dan rumit serta jumlah karyawan yang banyak. Bentuk ini diciptakan oleh Harrington Emerson.
    Kebaikannya;
    1.      Dapat digunakan pada setiap organisasi yang besar, apapun tujuannya, luas organisasinya,dan kompleksitas susunan organisasinya.
    2.      Pengambilan keputusan lebih mudah karena adanya dukungan dari staf ahli.
    3.      Perwujudan “the right man in the right place”lebih mudah terlaksana.
    Keburukannya;
    1.      Sesama karyawan dapat terjadi tidak saling mengenal, solidaritas sulit terbangun
    2.      Karena susunan organisasinya yang koompleksitas, maka kesulitannya adalah dalam bidang koordinasi antar divisi atau departemen.

    -Bentuk Organisasi Fungsional dan Staff
    Bentuk ini merupakan kombinasi dari bentuk organisasi fungsional dan bentuk organisasi garis dan staff. Adapun kebaikan dan keburukan dari bentuk organisasi ini adalah juga merupakan kombinasi dari bentuk diatas.

    DEPARTEMENTASI
    Efesiensi kerja tergantung kepada keberhasilan integrasi satuan-satuan yang bermacam-macam dalam organisasi,. Proses penentuan cara bagaimana kegiatan dikelompokkan disebutkan departementasi.Ada dua macam bentuk departementasi yaitu :
    • Departementasi Fungsional
    Departementasi Fungsional, organisasi menurut fungsi menyatukan semua orang yang terlibat dalam satu aktivitas atau beberapa aktivitas berkaitan yang disebut fungsi dalam satu departemen. Seperti pemasaran atau keuangan dikelompokkan ke dalam 1 unit.
    Mengelompokkan fungsi yang sama atau kegiatan sejenis untuk membentuk satuan organisasi. Ini merupakan bentuk organisasi yang paling umum dan bentuk dasar departementasi.
    Kebaikannya :
    a. Pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama
    b. Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi
    c. Memusatkan keahlian organisasi
    d. Memungkinkan pengawasan mana-jemen puncak terhadap fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi.
    Kelemahannya :
    a. Menciptakan konflik antar fungsi
    b. Adanya kemacetan pelaksanaan tugas
    c. Umpan balik yang lambat
    d. Memusatkan pada kepentingan tugasnya
    e. Para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif.
    • Departementasi Divisional
    Departementasi divisional, departemen perusahaan besar yang berupa bisnis terpisah; mungkin ditujukan untuk membuat dan menjual produk spesifik atau melayani pasar spesifik.
    Dengan membagi divisi-divisi atas dasar produk, wilayah, langganan, dan proses, dimana tiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri.
    a. Struktur organisasi divisional atas dasar produk
    Setiap departementasi bertanggung jawab atas suatu produk yang berhubungan. Struktur ini dipakai bila teknologi pemprosesan dan metode pemasaran sangat berbeda.
    b. Struktur organisasi divisional atas dasar wilayah.
    Pengelompokkan kegiatan atas dasar, tempat dimana operasi berlokasi atau menjalankan usahanya. Faktor yang menjadi pertimbangan adalah bahan baku, tenaga kerja, pemasaran, transportasi dan lain sebagainya.
    c. Struktur organisasi divisional atas dasar langganan
    Pengelompokkan kegiatan yang dipusatkan pada penggunaan produk, terutama dalam kegiatan pengelompokkan penjualan, pelayanan.


    ORGANISASI PROYEK DAN MATRIK KOORDINASI
    • Kebutuhan akan koordinasi


    Untuk melihat kemampuan seorang manajer sebagai pemimpin ( atasan )dalam  melakukan koordinasi dilihat dari besar kecilnya jumlah bawahanyang ada dalam tanggung jawabnya, yang dikenal sebagai rentang manajemen.Koodinasi dibutuhkan sekali oleh para karyawannya,sebab tanpa koordinasi setiapkaryawan tidak mempunyai pegangan mana yang harus diikuti, sehingga akanmerugikan organisasi itu sendiri.
    Dengan koordinasi diharapkan keharmonisan atau keserasian seluruhkegiatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sehingga tiap departemen atauperusahaan atau bagian menjadi seimbang dan selaras. Koordinasi merupakan usahauntuk menciptakan keadaan yang berupa tiga S,yaitu serasi,selaras dan seimbang.Kebutuhan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhan komunikasi dalampelaksanaan tugas dan derajat ketergantungan dari tiap satuan pelaksanaan.
    Prinsip rentang manajemen berkaitan erat dengan jumlah bawahan yangdapat dikendalikan secara efektif oleh manajer atau atasan. Antara rentangmanajemen dan koordinasi saling berhubungan erat. Ada anggapan bahwa semakinbesar jumlah rentangan semakin sulit untuk mengkoordinasikan kegiatan bawahansecara efektif.
    Terdapat 3 (tiga) macam saling ketergantungan di antarasatuan-satuan organisasi seperti diungkapkan oleh James D. Thompson (Handoko,2003:196), yaitu:
    1. Saling ketergantungan yangmenyatu (pooled interdependence)
    Bilasatuan-satuan organisasi tidak saling tergantung satu dengan yang lain dalammelaksanakan kegiatan harian tetapi tergantung pada pelaksanaan kerja setiapsatuan yang memuaskan untuk suatu hasil akhir.
    2. Saling ketergantungan yangberurutan (sequential interdependece)
    Dimana suatu satuan organisasi harus melakukan pekerjaannya terlebih dulu sebelumsatuan yang lain dapat bekerja.
    3. Saling ketergantungan timbalbalik (reciprocal interdependence)
    Merupakan hubungan member dan menerima antarsatuan organisasi. Ketiga hubungan saling ketergantungan ini dapat digambarkanseperti terlihat pada diagram berikut ini.
    • Masalah – masalah pencapaian koordinasi yang efektif

    Empat tipe perbedaan dalam sikap dan cara kerja di antara bermacam-macam individu dan departemen-departemen dalam organisasi menurut Paul R. Lawrence dan Jay W. Lorch adalah:
    Perbedaan dalam orientasi terhadap tujuan tertentu.
    Para anggota dari departemen yang berbeda mengembangkan pandangan-pandangan mereka sendiri tentang bagaimana cara mencapai kepentingan organisasi yang baik.
    Perbedaan dalam oriantasi waktu Manajer akan lebih memperhatikan masalah-masalah yang harus dipecahkan segera atau dalam periode waktu pendek. Bagian penelitian dan pengembangan lebih terlibat dengan masalah-masalah jangka panjang.


    Perbedaan dalam orientasi antar pribadi.


    Kegiatan produksi memerlukan komunikasi dan pembuatan keputusan yang cepat agar prosesnya lancar, sedang bagian penelitian dan pengembangan mungkin dapat lebih santai dan setiap orang dapat mengemukakan pendapat serta berdiskusi satu dengan yang lain.
    Perbedaan dalam formalitas struktur.
    Setiap tipe satuan dalam organisasi mungkin mempunyai metoda-metoda dan standar-standar yang berbeda untuk mengevaluasi program terhadap tujuan dan untuk balas jasa bagi karyawan.
    • Pendekatan – pendekatan untuk mencapai koordinasi yang efektif

    Komunikasi adalah kunci koordinasi yang efektif. Koordinasi secara langsung tergantung pada perolehan, penyebaran dan pemrosesan informasi. Semakin besar ketidakpastian tugas yang dikoordinasi, semakin membutuhkan informasi. Pada dasarnya koordinasi merupakan pemrosesan informasi. Terdapat tiga pendekatan untuk pencapaian koordinasi yang efektif, yaitu:
    Teknik-Teknik Manajemen Dasar
    Untuk mencapai koordinasi yang efektif kita dapat menggunakan mekanisme teknik-teknik manajemen dasar : hirarki manajerial, rencana dan tujuan sebagai pengarah umum kegiatan-kegiatan serta aturan-aturan dan prosedur-prosedur. Organisasi relatif tidak memerlukan peralatan koordinasi lebih dari teknik-teknik  tersebut.
    • Mekanisme-mekanisme Pengkoordinasian Dasar
     Mekanisme-mekanisme Pengkoordinasian Dasar Mekanisme-mekanisme dasar untuk pencapaian koordinasi adalah komponen-komponen vital dalam manajemen yang secara ringkas dapat di uraikan sebagai berikut: 
    1.Hierarki manajerial. Rantai perintah, aliran informasi dan kerja, wewenang formal, hubungan tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas dapat menumbuhkan integrasi bila di rumuskan secara jelas dan tepat serta dilaksanakan dengan pengarahan yang tepat.
    2.Aturan dan prosedur. Aturan-aturan dan prosedur –prosedur adala keputusan-keputusan manajerial yang di buat untuk menanggani kejadian-kejadian rutin, sehingga dapat juga menjadi peralatan yang efisisen untuk koordinasi dan pengawasan rutin. 
    3.Rencana dan penetapan tujuan. Pengembangan rencana dan tujuan dapat di gunakan untuk pengkoordinasian melaui pengarahan seluruh satuan organisasi terhadap sasaran- sasaran yang sama.
    • Meningkatkan Koordinasi Potensial
                Meningkatkan koordinasi potensial bila tiap bagian saling tergantung satu dengan lainnya serta lebih luas dalam ukuran dan fungsi. Koordinasi ini dapat ditingkatkan dengan melalui dua cara, yaitu :
    1) Sistem informasi vertikal, penyaluran data-data melalui tingkatan-tingkatan organisasi. Komunikasi ini bisa di dalam atau di luar lantai perintah.
    2) Hubungan-hubungan lateral (horizontal), dengan membiarkan informasi dipertukarkan dan keputusan dibuat pada tingkat dimana informasi diperlukan. Ada beberapa hubungan lateral: kontak langsung, peranan penghubung, panitia dan satuan tugas, pengintegrasian peranan, peranan penghubung manajerial, serta organisasi matriks.
    • Mengurangi kebutuhan akan koordinasi 
    ada dua metode pengurangan kebutuhan koordinasi, yaitu :
    a.       Penciptaan sumber daya tambahan yang memberikan kelonggaran bagi satuan kerja, misal penambahan kerja, bahan dasar dan pembantu, modal, pengurangan tugas dan masalah-masalah yang timbul sekarang.

    b.       Penciptaan tugas-tugas yang dapat berdiri sendiri, dengan mengubah karakter satuan organisasi.

    • KESIMPULAN
    Koordinasi sangatlah dibutuhkan dalam setiap organisasai ataupun kelompok apapun, demi tercapainya segala tujuan yang hendak dicapai. Komunikasi merupakan suatu kunci utama dalam tercapainya suatu koordinasi yang efektif. Pada dasarnya koordinasi merupakan suatu pemrosesan informasi. Di sini peranan menejer sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tugasnya dalam bidang pengontrolan, pengawasan dan evaluasi. Kedekatan hubungan dan kelancaran informasi antara menejer dengan bawahan pun juga sangat perlu diperhatikan agar dalam pelakasanaan tugas tidak terdapat kesalahan informasi (miss comunications) ataupun tekanan dalam bekerja.
    Sehingga dengan koordinasi yang baik dapat mempermudah suatu organisasi menjadi lebih maju karena tercapainya tujuan dari organisasi tersebut.






    Sumber:
    http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2035431-definisi-dan-pengertian-pengorganisasian-menurut/
    http://ryudi.wordpress.com/2010/12/18/teori-teori-organisasi/
    http://belajarmanagement.wordpress.com/2010/03/01/pedoman-dalam-pembagian-kerja/
    http://belajarmanagement.wordpress.com/2010/02/24/bentuk-bentuk-organisasi/
    http://fadhlly.blogspot.com/2011/11/departementasi.html
    http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/copywriting/2073204-kebutuhan-akan-koordinasi/
    http://nti0402.wordpress.com/2010/01/01/koordinasi-yang-efektif-dalam-organisasi/
    http://controlroom1.blogspot.com/2009/12/bab-iv-koordinasi_27.html

    Albar Residence | Citayem (Cash atau KPR Syariah)

      Bismillaah Solusi Rumah Syariah Murah untuk anda yang bekerja di Jakarta, Dekat dengan Stasiun. Albar Residence  Dengan lokasi yang dekat ...